Minggu, 29 Mei 2011

Mengatasi Tanggal Tua

Tanggal Tua, semua orang pasti mengenal kata tanggal tua sebagai hari hari dimana duwit menipis, apalagi seperti saya karyawan kecil. pas iseng blog walking saya ketemu postingan yang lagi membahas cara mengatasi tanggal tua, cerdik bertahan di tanggal tua intinya....


Didin, seorang mahasiswa perantauan, menatap kalender. Minggu ini sudah masuk akhir bulan, dibereskannya tas dan pamit ke teman satu kos nya.
“Pergi ya, ntar pulangnya malam.”
“Ke mana dulu?”
“Numpang makan di rumah Dimas.”
   
Tanggal tua menjadi hal yang menakutkan bagi sebagian orang. Urusan perut kadang tak bisa diajak kompromi, padahal isi dompet semakin tipis. Gaji atau kiriman uang dari keluarga pun belum tiba. Rasanya ingin mempercepat hari-hari menyengsarakan itu.

Bagi mahasiswa atau pekerja kantor yang harus mengelola biaya hidupnya sendiri, prahara menghadapi tanggal-tanggal berkepala dua sudah menjadi ‘santapan’ tiap bulan. Apa sih yang menyebabkan hal ini terjadi? Seharusnya kan, uang yang masuk sudah bisa memenuhi kebutuhan.

“Standar, ‘kekeringan’ di tanggal tua biasanya karena banyak pengeluaran tak terduga,” kata Didin. Hal senada juga dilontarkan Andreas, arsitek muda yang terpaksa tinggal jauh dari kampung halamannya di Surabaya. Pengeluaran tak terduga bagi mahasiswa banyak habis untuk fotokopi materi-materi kuliah, sedangkan bagi mereka yang sudah bekerja, pengeluaran tak terduga lebih banyak karena tidak bisa menahan keinginan membeli barang-barang yang sebetulnya tidak terlalu penting. “Biasanya kalau duit dah habis beli barang-barang hobi, aku mengandalkan mie instan, nggak sehat sih tapi kan layak makan,” ucap Andreas.

Lain lagi dengan Stephanie, mahasiswa yang sudah hampir 3 tahun ini tinggal di kos. “Bisa-bisa makan cukup satu kali sehari,” ujarnya. Ia juga menambahkan, untuk makan pagi dan siang akan lebih hemat jika digabung di jam-jam tanggung, misalnya jam 10 atau 11 siang dengan porsi nasi yang lebih banyak dibanding lauknya. Sedangkan untuk makan malam sendiri cukup dengan segelas susu atau buah, itu pun kalau ada. Lebih ekstrim lagi, bisa mencontoh Nanda, gadis asal Kalimantan ini sudah puas hanya dengan minum air putih saja untuk mengganjal perut. Tidak bisa makan, anggap sedang puasa. Namun demikian, kalau sudah tak tahan ia akan menyiasati makanan atau minuman favoritnya, seperti teh botol diganti es teh manis biasa atau es jeruk yang es-nya dipisah. “Jadi kita bisa dapetin air jeruk lebih banyak, hehehe...,” tambah Nanda.

Kalau Ricky, fresh graduate yang tinggal di daerah Ciputat, memilih untuk membawa susu bubuk sendiri dan meramu es teh susu favoritnya. “Pesen es teh manisnya aja, terus bawa susu dari rumah. Soalnya es teh susu mahal,” jelasnya. Lain lagi dengan yang satu ini, “Saya mah pesan es teh tawar sajah, tapi bawa gula sendiri..atau bekal minum sekalian, jadi teu kudu pesan minum deui..” kata Henry, pemuda Bandung yang doyan nongkrong di daerah Dago, Bandung, dengan logat Sundanya yang cukup kental.

Icha, karyawan di bilangan Kuningan, lebih sering terlihat di kantin kantor jika sudah memasuki akhir bulan. “Anggaran makin tipis, jadi manfaatkan saja makanan di kantor biar bisa hemat. Kalau malam hari sih, rela makan nasi dan sayur aja. Lebih murah dibanding lauk daging,” katanya. Bawa bekal dari rumah juga menjadi alternatif, tapi itu juga kalo sempat bikinnya. Tapi yang tidak pernah lepas dari Icha adalah botol air mineral yang selalu dibawa kemana-mana. “Irit donk, ga usah beli. Tinggal isi ulang aja di rumah atau di kantor.” Lain lagi dengan Fajar, laki-laki muda yang bekerja di industri TV ini pintar memanfaatkan fasilitas. “Saya kan kerjaannya di lapangan, jadi kalau buat makan bisa ambil jatah duit ongkos dari kantor.”

Erwin, pemuda yang hobi bermain basket di Senayan ini mengaku lebih senang untuk mencicipi makanan orang-orang. Tidak tanggung-tanggung, lima orang sekalian biar perut langsung kenyang. “Gue juga suka minta esnya dibanyakin kalau beli es teh manis di plastik. Kalau tehnya habis, esnya masih bisa gw minum kalau mencair. Lumayan buat persediaan.”

Putar otak dan cari trik jitu bisa menjadi kegiatan yang menyenangkan di tanggal tua. Seperti mencontoh iklan salah satu produk rokok yang mengajarkan kita makan di restoran Padang hanya dengan bermodalkan nasi dan kuah-kuah gulai santannya. Bandel sih, tapi kenyang kan? :-p

Selain itu sebetulnya masih banyak lho tempat-tempat makan yang seakan-akan tak terlihat. Sering ke mal? Coba deh jalan-jalan ke basement parkirnya. Biasanya, pihak pengembang menyediakan sebuah kantin yang banyak dijadikan tempat tujuan para supir dan karyawan mal mengisi perut. Rasanya tidak kalah dengan makanan sejenis yang berada di lantai atas. “Wueiitss, parahh..Gue sih mendingan makan di kantin sopir kalo di mal. Buat gue makanannya lebih enak and porsinya itu lho, puas!!” kata Fekky, lulusan salah satu universitas swasta di Jakarta.

Enny, salah satu karyawati advertising agency, berdua temen kantor (cewe juga) pernah ngerasain makan di kantin supir di Plasa Indonesia. "Abis beli produk perawatan muka di Sogo, berhubung tanggal tua, nah ... makan siang nya cukup di kantin supir. Pas kita masuk, isinya cowo semua! Supir-supir itu pada bingung ngeliatin kita", tawa Enny. Temennya menimpali, "Mana gerah banget, tapi enak lho rasa makanannya. Dan muraaah".

Kalau gengsi, bisa juga ke tempat anak muda cari ilmu. Biasanya di sekitaran sekolah atau universitas banyak sekali tempat-tempat makan enak yang murah meriah. Maklum, target pasar mereka notabene anak sekolah dan mahasiswa yang budget nya pas-pasan! Misalnya, soto gebrak yang ada di samping SMA 3 Setiabudi, Jakarta Selatan, aneka jajanan bakso, ketoprak, mie ayam, gado-gado yang ada di komplek sekolah Yasporbi/Bidakara Pancoran, atau Nasi Uduk Mas Dikun yang mangkal tiap malam di depan SMA Suluh Pasar Minggu.

Belum puas? Masih ada beberapa strategi yang mungkin bisa dicontek jika sedang mengalami masa sulit di tanggal tua.

1.    Bertindaklah 'Kriminal'

Mulai dari awal bulan, mumpung angka di buku tabungan masih panjang, tidak ada salahnya jika kita mempraktekkan pedagang ilegal yang banyak menimbun sembako. Mie instan so pasti ada di daftar pertama. Selain murah, mie instan sudah pasti mengenyangkan. Snack atau camilan juga bisa menjadi pilihan untuk disimpan.

2.    Masak Rame-Rame

Jika tinggal di kos bersama dengan beberapa teman atau rekan kerja, ajaklah mereka untuk masak bersama-sama. Misalnya, Anda memberikan modal beras, teman Anda menyumbang sayuran, atau teman yang lain investasi bumbu dapur. Siapa tahu jika dilakukan secara rutin akan mempererat kekompakan. Jadi, kalau ada yang mengajak bertanding voli antar RT sudah tidak perlu latihan kekompakan lagi deh! :-)

3.    Jalin Tali Silaturahmi

Jangan tiru Bang Thoyib yang tidak pulang-pulang. Kalau sedang kekeringan justru ingat-ingatlah omelan orang tua, paling tidak mereka tak akan tega membiarkan anaknya kelaparan. Sekalian pulang ke rumah, sekalian bisa menodong makanan untuk dibawa kembali ke tempat kos. Syukur-syukur diberi uang tambahan.

4.    Akhiri Hidup si 'Ayam Jago'

'Ayam jago' yang satu ini memang bukan untuk dimakan, namun ia rela menyerahkan nyawanya demi kita. Hari demi hari, setiap uang receh yang masuk ke perutnya bisa menjadi setetes air yang menyegarkan di musim kemarau. Setelah dikumpulkan bisa menghasilkan sepiring nasi lengkap dengan lauknya di warteg terdekat.

5.    Tebalkan Muka!

Belajar saja dari kasus Didin di atas, numpang makan di rumah teman atau kerabat bisa menjadi alternatif yang jitu. Apalagi kalau ada kerabat yang mengadakan resepsi pernikahan, wah....tentu jangan dilewatkan kesempatan seperti ini.

6.  Cari Tau Warteg yang Bisa Buat Ngutang

Di sekitar kantor atau tempat kos, biasanya bertebaran warteg. Nah, jalin hubungan sama mereka supaya kalo tanggal tua mau ngutang, boleh. Hehe. Ntar kalo dah gajian buruan dibayar utangnya, tambahin dikit lah biar si pemilik warteg senang dan lain kali kita boleh ngutang lagi :-).

7.  Arisan Tanggal Tua

Ajak temen-temen kantor (ato temen-temen kuliah) untuk mengadakan semacam arisan, buat mengatasi tanggal tua. Setor duitnya tiap minggu, nanti di minggu ke 3 (tiga) setiap bulan duit yang terkumpul dibagi2kan ke tiap peserta, buat mengatasi tanggal tua. Lumayan lho.

Gimana? Oke, kan? Tanggal-tanggal tua akan terus berdatangan tiap bulannya. Makin sering memutar otak akan makin banyak celah-celah kecil yang bisa didapat supaya bisa terus mengisi perut.dan mengatasi tanggal tua tersebut. Ingat saja prinsip ekonomi untuk lakukan pengorbanan sekecil-kecilnya demi mendapatkan hasil sebesar-besarnya, betul? 

sumber : http://temanmakan.multiply.com

3 komentar:

salam sahabat
eh ada ada ya mengatasi tanggal tua?hehehe saya tanggal tua aman aman saja ihihi oh iya dah saya follow thanks ya

sarannya downg mbak biar selalu aman di tanggal tua..... :D
saya juga dah follow mbak....makasih ea..

hehe biasanya pas tanggal muda abis2an, pas tiba tanggal tua mulai deh puasa :)

Poskan Komentar

jangan lupa komentarnya....

Dapatkan Kabar Berita Terkini